Primary tabs

PEMKAB BANGKA MENDORONG GERAKAN BUDAYA LITERASI MULAI USIA DINI

Body: 

Hanya dengan membacalah cita-cita untuk menyejahterakan masyarakat dapat dicapai. membaca adalah hal pertama dan utama yang harus dilakukan oleh seseorang, komunitas, daerah atau bangsa apabila ingin mengubah dirinya ke kehidupan yang lebih baik. Membaca merupakan instrumen fundamental dalam melakukan transformasi pribadi, masyarakat, dan bangsa. Oleh karena itu dalam RPJMD “Bangka Bermartabat” 2014-2018, gerakan buudaya literasi menjadi salah satu prioritas pembangunan pendidikan

Pemkab Bangka sejak beberapa tahun terakhir meluncurkan Gerakan Bersama Budaya Literasi Mulai Usia Dini. Dengan jargon “membaca masa lalu dan menulis masa depan”, gerakan ini memasyarakatkan, mendorong, memotivasi dan mendampingi anak-anak pra sekolah, sekolah dan bahkan paska sekolah untuk terus mengembangkan dan menanamkan budaya literasi, menulis dan membaca.

Diantaranya melalui Workshop “GEMPA LITERASI; MEMBENTUK GENERASI JAGUAR BERINOVASI KARIMAH”. Diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kab Bangka degan pendampingan dari BAPPEDA. Workshop ini diselengarakan di Hotel Stasiun 12 sungailiat, diikuti oleh seluruh guru PAUD, Taman Bacaan dan Penilik Sekolah se Kabupaten Bangka. Menghadirkan nara sumber nasional Gol A Gong, penulis novel Balada Si Roy yang best seller. Dalam waktu dekat, novel ini akan direlease dalam bentuk Film layar lebar. Nara sumber lain dalam workshop ini adalah Suparman Idris, seoreng penggiat literasi, sekaligus ketua forum literasi bangka belitung, yang juga seorang anggota DPRD Kabupaten Bangka.

Kepala Bappeda:  dunia pendidikan  umumnya hanya mementingkan formalitas daripada hakikat. Seringkali  kualitas suatu lembaga pendidikan hanya  ditentukan oleh tingkat dan kualitas kelulusan siswa. Padahal seharusnya, kulaitas lembaga pendidikan juga harus diukur dari seberapa jauh tingkat minat baca para peserta didiknya. Pendidikan yang tidak dapat menumbuhkan minat baca  seringkali akan menemui kegagalan. Sebaliknya, dengan minat baca yang bagus, pendidikan akan lebih mengarah pada keberhasilan. Baca, tulis, hitung (calistung) saja tidak cukup. Ada enam literasi dasar yang harus dikuasai yaitu baca tulis, literasi numerasi, literasi finansial, literasi sains, literasi budaya dan kewarganegaraan, dan literasi teknologi informasi dan komunikasi atau digital.

Kepala Bappeda: Di masa lampau, banyak tokoh di republik ini yang disegani bahkan hingga tingkat internasional. Di antara mereka, ada nama Sukarno, Mohammad Hatta, KH Agus Salim, Tan Malaka, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), dan lain-lainnya. Satu hal yang patut diteladani dari tokoh-tokoh tersebut adalah kebiasaan dan kedisiplinan mereka dalam hal membaca. Bung Hatta, misalnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenang sebagai sosok yang memiliki disiplin membaca yang sangat hebat. Saat melakukan studi di Belanda, ia punya kebiasaan membaca buku dan menulis mulai pukul 19.00 hingga 24.00. Ia juga menulis untuk majalah Indonesia Merdeka sebagai kolumnis yang dilakukan mulai pukul 21.00. Kebiasaan membaca ini tidak hilang ketika ia menjalani masa-masa pembuangan. Islam sendiri memiliki banyak tokoh hebat yang juga penggiat literasi tingkat dunia.

Bahkan sejak zaman dulu kala,  Islam mengalami masa kejayaan yang gemilang karena peradaban literasinya yang sangat maju. Peran dan kiprah ulama-ulama dan ilmuwan Islam bahkan diakui oleh dunia Barat. Contohnya, Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averoes), Imam Al Ghazali, Ibnu Khaldun, dan lain-lain. Yang juga perlu digarisbawahi, peradaban tersebut dibangun tidak hanya dengan budaya membaca yang baik, tapi juga upaya pendokumentasian melalui karya tulis-karya tulis yang disimpan di perpustakaan. Tiga kota besar dunia yang pernah menjadi saksi kejayaan Islam pada masa silam adalah Konstatinopel (Istanbul, Turki), Wina (Austria), dan Cordoba (Spanyol). Atmosfer literasi di tiga kota tersebut sangat terasa dengan keberadaan perpustakaan-perpustakaan yang menyediakan bacaan-bacaan bermutu, termasuk karya-karya hebat ulama Islam.

Suparman Idris: Menumbuhkan Budaya Literasi menjadi keharusan dan menjadi kewajiban kita bersama. sulit mengharapkan lahirnya generasi emas yang kelak memegang tampuk kepemimpinan negeri in tanpa budaya literasi. Maka, literasi diharapkan bisa menjadi pintu masuk untuk melahirkan generasi emas ini. Penguatan dan pengembangan budaya literasi harus dilakukan untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang cerdas dan bermoral. Penguatan budaya literasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga mengejar ketertinggalan kita dari bangsa lain.

Suparman Idris: Menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah.  Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%.  Data ini jelas menunjukkan bahwa tingginya minat baca di Indonesia masih tertinggal jauh dari Singapura dan Malaysia. Dilansir dari data penelitian yang dilakukan United Nations Development Programme (UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu 14,6%. Persentase ini jauh lebih rendah dibandingkam Malaysia yang mencapai angka 28% dan Singapura yang mencapai angka 33%.

Kepala Dinas Pendidikan: Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. ”Kunci” inilah yang sekarang ini  harus kita budayakan kembali dalam  tradisi pendidikan kita. Karena itu, tradisi membaca harus dikembalikan dan diletakkan sebagaimana mestinya untuk meningkatkan kualitas hidup tersebut.

Sumber: 
Bappeda
Penulis: 
Deviana AP
Fotografer: 
Bappeda