Masih tingginya Prevalensi Stunting pada balita di Kabupaten Bangka tahun 2013 sebesar 32,27% (Riskesdas 2013) menjadikan Kabupaten Bangka terpilih sebagai prioritas penanganan stunting nasional tahun 2019 dengan 10 desa lokus stunting yang harus di intervensi, penyebab langsung terjadinya stunting adalah kekurangan gizi yang kronis dimulai dari seribu hari pertama kehidupan (1000) HPK yaitusejak ibu hamil sampai anak berusia dua tahun (baduta),kurangnya pemberian makan bayi dan anak terutama ASI dan MPASI pada dua tahun pertama.serta perilaku makan balita yang masih kurang baik.
Di Kabupaten Bangka rendahnya asupanmakananbergiziseimbang yang disebabkan oleh polapengasuhan yang kurangbaikyaitupraktekpemberianmakananbayi dan anakterutamapemberian ASI dimanacakupanpemberian ASI eksklusifsebesar 25,7% pada tahun 2017 (PSG, 2017) dari 50% target nasional, status gizi ibuhamil yang masihrendahselamakehamilan yang bisadilihatdariPersentase KEK bumilsebesar 22,5% (Riskesdas, 2018) dan pengetahuanibu yang masihkurangberdasarkanhasilPemantauanKonsumsi Gizi di KabupatenBangkatahun 2017 dimanakonsumsiKecukupanenergi Ibu Hamil termasukdalamkategoridefisitringanyaitu 73,6% daristandar cukup 80% -119% sehinggabayi yang dilahirkanberpotensiberat badan kurang dan pendek (stunting).
Agar persoalantersebuttidakbertambahmeluas, KetuaTim PercepatanPenurunan Stunting Kabupaten Bangka, Pan Budi Marwotomenyatakanbahwa TPPS melakukanberbagaiupayakolaboratif dan terpaduuntukmenuntaskanpersoalan yang menjadipenyebabutama stunting denganmembuatterobosaninovasi Pos pencegahan Stunting Seribu Hari PertamaKehidupanatau“Pos Penting Sehat Mapan”. Kedepan TPPS akanmelibatkankalanganahliuntukmelakukanintervensiklinis dan konselinganak. Dokter Spesialiskandungandilibatkanuntukmengintervensiibuhamil yang memilkiresikotinggisertakekuranganenergi stunting. Dokter Spesialis Gizi Klinisdilibatkanuntukmengintervensibalitaterindikasi stunting. SementaraPsikolog Anak dilibatkanuntukmemperbaikiperilakukeseharianbalita stunting terutamakebiasaanmakan yang positif.
Desi Yanti, SKM, MKM selaku Nutisionis Dinkes Bangka menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan terpadu dalam pencegahan stunting. Sasaran pos penting sehat mapan adalah kelompok 1000 HPK yaitu ibuhamil, ibu menyusui dan baduta dalam suatu wadah melalui pemberdayaan masyarakat dengan membentuk pos-pos di desa lokus stunting dengan memberikan pendidikan gizi sebagai upaya perubahan perilaku dalam praktek pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) serta edukasi gizi seimbang ‘isi piringku’ pada ibu hamil yang dilaksanakanselama 12 hari di desa lokus stunting. Selain itu Makanan yang dimasak berasal dari pangan lokal setempat dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT),Ibu PKK, Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan Kader kesehatan di desa. SedangkanPelaksana dariPetugaskesehatanadalahPetugas Gizi, Bidan desa, promkes dan kesehatanlingkungan.
Makanan yang diolah di Pos penting sehat mapan dengan menu yang sudah disusun oleh Ahli gizi Puskesmas dan Dinas Kesehatan’ sesuaidenganprinsipgiziseimbang “isipiringku” setiap kali makan.PorsiMakanansetiaphari di evaluasiapakahhabisatauadasisa.Berat badan baduta dan Ibu ditimbangsetiaphari.Tinggi badan diukur pada awal dan akhirkegiatan. Setiaphariadaedukasidarinarasumber yang kompeten tentang gizi, pengasuh anak anak, PHBS, Germassertamengolah menu daripanganlokaldari Dinas Pangan dan PKK Kabupaten. Evaluasipospentingsehatmapaninidapatdilihatdarihasilskorpengetahuanibuselamamengikutikegiatanselama 12 hari dan penambahan BB ibuhamil dan baduta.
- 10 reads

