SUNGAILIAT, BABELPOS.ID - Kepala Laboratorium Inovasi Institut Pahlawan 12, Dr. Widya Handini, M.Sc, memberikan apresiasi terhadap pengembangan Sentra Olahan Hasil Laut di Kawasan Industri Jelitik, Kabupaten Bangka. Inovasi daerah yang dikelola secara kolaboratif bersama Koperasi Produsen Bangka Nautica Jaya ini dinilai sebagai terobosan yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga pada penguatan ekosistem usaha industri kecil dan menengah (IKM) serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Dr. Widya, pendekatan yang diusung Sentra Olahan Hasil Laut berbeda dari model fasilitasi konvensional. Inovasi ini mengintegrasikan pengelolaan bahan baku, pemanfaatan fasilitas produksi bersama, penguatan kelembagaan koperasi, dan pengembangan usaha IKM dalam satu sistem pengembangan industri berbasis potensi lokal. "Keterbaruan inovasi ini terletak pada pergeseran dari pembinaan IKM yang bersifat parsial menuju pengembangan sentra industri yang terintegrasi. Pemerintah tidak hanya menyediakan sarana dan prasarana, tetapi juga memastikan fasilitas tersebut dikelola secara terencana dan berkelanjutan melalui kelembagaan koperasi," ujarnya.
Dr. Widya menegaskan bahwa inovasi ini menjawab permasalahan nyata yang dihadapi pelaku IKM pengolahan hasil laut di Kabupaten Bangka. Fluktuasi ketersediaan bahan baku akibat kondisi alam dan musim angin laut sering kali menghambat kelangsungan produksi. Keberadaan fasilitas penyimpanan dingin memungkinkan bahan baku yang diperoleh pada saat pasokan melimpah disimpan untuk digunakan pada periode ketika pasokan menurun. "Dengan pengelolaan stok yang baik, sentra ini berpotensi mengurangi gangguan produksi akibat fluktuasi pasokan, sehingga pelaku IKM dapat bekerja lebih terencana," jelasnya.
Selain itu, Dr. Widya menyoroti pentingnya akses pelaku IKM terhadap mesin dan peralatan produksi yang memadai. Menurutnya, jika setiap pelaku usaha harus menyediakan seluruh peralatan secara mandiri, kebutuhan investasi dapat menjadi hambatan besar. "Sentra ini membuka peluang pemanfaatan fasilitas produksi bersama sehingga akses terhadap teknologi dapat diperluas. Ini adalah bentuk nyata dari ekonomi gotong royong yang berbasis pada kelembagaan usaha," tambahnya.
Dari sisi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat, Dr. Widya menilai Sentra Olahan Hasil Laut berpotensi memperluas kesempatan kerja, meningkatkan omzet, dan pendapatan pelaku usaha. Hilirisasi hasil laut menjadi produk bernilai tambah seperti ikan lumat, surimi, aneka kempelang, dan abon ikan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi bahan baku, tetapi juga memperkuat daya saing produk olahan daerah. "Ketika hasil laut tidak lagi dijual sebagai komoditas mentah, nilai tambahnya dinikmati oleh masyarakat lokal. Ini adalah esensi dari kesejahteraan yang berkelanjutan," tegasnya.
Dr. Widya juga mengapresiasi inovasi produk yang dikembangkan, seperti kempelang atau kerupuk varian oven yang diproses menggunakan teknologi gelombang mikro. Menurutnya, inovasi ini menjawab tantangan pasar healthy snack global karena kandungan lemak atau minyaknya jauh lebih rendah dibandingkan varian goreng. "Inovasi produk seperti ini menunjukkan bahwa sentra tidak hanya berfokus pada kapasitas produksi, tetapi juga pada diversifikasi produk dan penyesuaian dengan tren pasar. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri daerah," ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Widya menekankan pentingnya keberlanjutan tata kelola sentra. Keterlibatan Koperasi Produsen Bangka Nautica Jaya sebagai pengelola dinilai membuka peluang pengembangan mekanisme pengelolaan fasilitas bersama yang menghubungkan kebutuhan pelaku IKM dengan kegiatan produksi dan usaha. "Pengelolaan yang didukung pencatatan produksi, perhitungan biaya, pemeliharaan peralatan, dan pengembangan pasar akan meningkatkan keberlanjutan operasional sentra. Ini juga menjadi pembelajaran berharga bagi pengembangan sentra industri berbasis potensi lokal lainnya," ujarnya.
Dr. Widya berharap pengembangan Sentra Olahan Hasil Laut dapat terus diperkuat dan direplikasi di daerah lain. Menurutnya, inovasi daerah yang berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan fasilitas dan penguatan ekosistem usaha IKM merupakan kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. "Laboratorium Inovasi Institut Pahlawan 12 siap mendukung pengembangan model pengelolaan sentra industri yang terpadu, berbasis potensi lokal, dan berkeadilan bagi masyarakat. Inovasi yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat adalah inovasi yang harus terus kita rawat dan kembangkan bersama," tutupnya.
- 1 read

