Pemerintah Kabupaten Bangka bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Republik Indonesia menggelar forum Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam rangka penurunan Prevalensi stunting pada Selasa (19/02/19) di OR Setda Bangka.
Sosialisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada segenap lapisan masyarakat yang hadir untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat sehingga dapat menekan angka stunting pada balita di Kabupaten Bangka.
Direktur Infokom PMK, Kementerian Komuniksai dan Informasi (Kominfo) Republik Indonesia, Wiryanta, Ph. D., mengatakan bahwa stunting merupakan kekurangan gizi kronik pada anak bawah lima tahun (balita) yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Dirinya mengatakan bahwa Pemerintah melakukan intervensi pemberian gizi tambahan kepada untuk ibu hamil dan anak serta melakukan intervensi non gizi berupa sanitasi air bersih, edukasi dan sosialisasi.
“Stunting stunting merupakan kekurangan gizi kronik pada anak bawah lima tahun (balita) yan gterjadi dalam jangka waktu yang lama. Pemerintah dalam hal ini melakukan dua skema intervensi, skema pertama yakni dengan pemberian gizi tambahan kepada untuk ibu hamil dan anak, kedua dengan melakukan intervensi non gizi berupa sanitasi air bersih, edukasi dan sosialisasi,”ungkapnya.
Kepala BAPPEDA Pan Budi marwoto selaku sekretaris TKPKD kabupaten Bangka turut menjadi narasumber dalam acara tersebut dengan menyampaikan materi “ Mewujudkan Bangka Tanpa Stunting”.
Dalam paparannya “Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 bahwa angka stunting di kabupaten Bangka sebesar 32,27 lebih rendah dibandingkan angka nasional 37,2. Akan tetapi angka tersebut masih tergolong tinggi, masih diatas amnbang yang di tetapkan WHO sebesar 20%.”
Ia menyampaikan “Penyebab terbesar kematian balita adalah gizi kurang yang merupakan salah satu faktor stunting. Secara garis besar stunting disebabkan oleh 4 hal, pengelolaan pernikahan yang kurang baik atau nikah muda. Pengelolaan kehamilan, pengelolaan pengasuhan pada 1000 hari pertama kehidupan dan sanitasi lingkungan yang buruk.”
Anak balita dengan gangguan stunting dampak jangka pendeknya akan mengalami keterlambatan perkembangan otak, pertumbuhan massa tubuh dan metabolisme tubuh yang buruk. Sementara dampak jangka panjangnya kecerdasan yang kurang, kekebalan tubuh yang kurang dan mudah terkena penyakit tidak menular.
“Stunting atau pendek atau kerdil atau dikenal dengan bahasa Bangka “ kebencet” adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis.” tambahnya
Secara ekonomi, stunting menyebabkan kerugian yang cukup besar. Sehingga kabupaten Bangka berkomitmen untuk menurunkan angka stunting dengan mengeluarkan berbagai kebijakan makro daerah yang mendukung kebijakan nasional.
Acara Sosialisasi Hidup Bersih dan Sehat dalam Rangka Penurunan Prevalensi Stunting tersebut dihadiri oleh 90 orang peserta dari 10 desa serta menghadirkan narasumber I Meiyda dari Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu,Anak dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK D., narasumber II Ir. Pan Budi Marwoto, M.Si dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bangka dan narasumber III dr. Then Suyanti dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka. (Pemkab Bangka)
- 23 reads

